AWAL MULA
AWAL MULA
Angkatan ketujuh (1982 -1988): Alex Maji, Santi Ketua, Yasinta Kabelen, Ernes Malohena, Very Mbaling (Almarhum), Imelda Inul, Daniel Dagu, Valens Jenahat, Tarsi Gantura, Elen Baga,, Nimus Agat, Rensi Mandi. Sofia Jelu, Vincent Purnama, Tina .... (adiknya Matilda Eni),Wens Guman, Yohanes Jehut. Hendrikus Aron,
Angkatan ketujuh (1983 -1989): Rensi Mandi, Robert Wardy, Leny Mada, Hendrika Hangul, Mersi Genor,
Angkatan kedelapan (1984 -1990): Wati Ratu, Ema Kirim, Rony Kuang, Jony Jemau, Ino
Jemabut,
_________
__________
Kepsek
Penyebaran Alumni
Lida; Polus Nurut;
Porong Tedeng; Feliks Takur, Lorens Tote, Darius Kalis, Lin Mbue,Polus Pantur (?)
SATAR ARA;
Angkatan I:
Note:
Kraeng Imun
.....Ngamal
Kons Kejuru
Kantor Camat Kuwus awalnya di rumahnya Yoseph Guman.
(Informan: Kak Beny Jelami, telepon 16 Agustus 2019)
_____________________________
Saya bergabung dalam Whatsapp Group (WAG) Alumni SDI Golowelu I pada Sabtu, 9 Februari 2019. Admin group Rely Bagung, sekcam Kuwus, lalu menjadi Camat Kuwus - yang mengajak untuk bergabung dalam WAG itu. Sejak saat itu saya aktif mengikuti percakapan alumni.
SDI Golowelu I didirikan pada 1 Januari 1974. Kepala Sekolah pertama Bapak Donatus Nagong (Jenali) dari Rawuk, Kolang (?). Zaman itu anak-anak diwajibkan tidur di sekolah menemani guru. Pa Don Nagong (Jenali) kurang lebih dua tahun mengajar di Golowelu. Beliau mengalami gangguan kesehatan saat itu lalu pindah ke tempat lain.
Guru-guru pertama saat itu adalah Ibu Yulia Maria Ju (Ibu Juli), lalu Ibu Lidvina Inul, kemudian Ibu Saveriana Selima, Bapak Yoseph Bensa, B.A, Bapak Thomas Mbembok. Pa Thomas Mbembok lalu jadi kepala sekolah. Istinya berasal dari Regho, peranakan Maumere. Sebelumnya Pa Thomas mengajar di Kajong pada masa mudanya. Lalu pindah ke Raka. Setelah itu pindah ke Golowelu. Selain itu guru-guru yang lain menyusul termasuk Bapak Mateus Ketua, Ibu Ely Pangul dan Pa Yohanes Hagang yang akarab disapa Pa Yan. Pada awal 1980 an Ibu Melania Nia bergabung, lalu menyusul Bapak Simon Batas dan isterinya Ibu Kandida Jemimun. Setelah itu bergabung guru muda asal Ndieng, yakni Ibu Antonia Gunung yang disapa Ibu Any. Namun, Ibu Any tidak lama karena harus pindah mengikuti suaminya yang bekerja di Pagal, Cibal. Saat ibu Any pindah mendung kelabu menyelimuti hati kami. Sepengamatan saya, inilah hari tersedih yang pernah anak-anak alami saat gurunya pindah ke sekolah lain. Cucuran air mata membasahi pipi anak-anak saat itu. Suatu tangisan rindu melepas kepergian guru tercinta Masih awal tahun 1980-an, Pa Yan Jeheman, asal Dalo, Cancar bergabung memperkuat barisan guru-guru yang telah ada. Selanjutnya Ibu Mery - asal Pau Ruteng, istri Pa Lukas, pegawai BRI Golowelu - bergabung juga. Ibu Mery merupakan pengganti Ibu Any. Ada suasana belajar yang sangat berbeda antara Ibu Any dan Ibu Mery, membuat kami sangat rindu sosok Ibu Any. Fisik kami boleh ada di kelas Ibu Mery, namun jiwa kami ngelangsa ke semsesta mencari dan merindukan sosok Ibu Any yang keibuan dan lemah lembut. Saya pribadi begitu bergembira begitu Ibu Mery pindah. Ibu Mery terlalu kasar dan keras dalam mendiddik kami. Kami belajar di bawah tekanan dan rasa takut. Dalam perjalanan waktu Pa Alex Kabelen bergabung. Pa Alex pinndah dari SDK Lewur atau SDK Coal saat itu. Beliau tinggal di Porong Tedeng.
Guru-guru pertama saat itu adalah Ibu Yulia Maria Ju (Ibu Juli), lalu Ibu Lidvina Inul, kemudian Ibu Saveriana Selima, Bapak Yoseph Bensa, B.A, Bapak Thomas Mbembok. Pa Thomas Mbembok lalu jadi kepala sekolah. Istinya berasal dari Regho, peranakan Maumere. Sebelumnya Pa Thomas mengajar di Kajong pada masa mudanya. Lalu pindah ke Raka. Setelah itu pindah ke Golowelu. Selain itu guru-guru yang lain menyusul termasuk Bapak Mateus Ketua, Ibu Ely Pangul dan Pa Yohanes Hagang yang akarab disapa Pa Yan. Pada awal 1980 an Ibu Melania Nia bergabung, lalu menyusul Bapak Simon Batas dan isterinya Ibu Kandida Jemimun. Setelah itu bergabung guru muda asal Ndieng, yakni Ibu Antonia Gunung yang disapa Ibu Any. Namun, Ibu Any tidak lama karena harus pindah mengikuti suaminya yang bekerja di Pagal, Cibal. Saat ibu Any pindah mendung kelabu menyelimuti hati kami. Sepengamatan saya, inilah hari tersedih yang pernah anak-anak alami saat gurunya pindah ke sekolah lain. Cucuran air mata membasahi pipi anak-anak saat itu. Suatu tangisan rindu melepas kepergian guru tercinta Masih awal tahun 1980-an, Pa Yan Jeheman, asal Dalo, Cancar bergabung memperkuat barisan guru-guru yang telah ada. Selanjutnya Ibu Mery - asal Pau Ruteng, istri Pa Lukas, pegawai BRI Golowelu - bergabung juga. Ibu Mery merupakan pengganti Ibu Any. Ada suasana belajar yang sangat berbeda antara Ibu Any dan Ibu Mery, membuat kami sangat rindu sosok Ibu Any. Fisik kami boleh ada di kelas Ibu Mery, namun jiwa kami ngelangsa ke semsesta mencari dan merindukan sosok Ibu Any yang keibuan dan lemah lembut. Saya pribadi begitu bergembira begitu Ibu Mery pindah. Ibu Mery terlalu kasar dan keras dalam mendiddik kami. Kami belajar di bawah tekanan dan rasa takut. Dalam perjalanan waktu Pa Alex Kabelen bergabung. Pa Alex pinndah dari SDK Lewur atau SDK Coal saat itu. Beliau tinggal di Porong Tedeng.
Siswa -siswi angkatan pertama saat itu tamat (1974-1980): Oca Mbaling, Garda Banul, Don Hibur, Anton Adiman, Pius Kalim, Benyamin Jelami, Nela Nduhung,Maksimus Kahar, Paulus Podos, Rika Banut, Paulus Nurut (Lida), Feliks Takur, Ferdy Tarang (?) , Pa Sixtus (?).
Angkatan kedua (1975-1981): Erna Ratu, Tarsi Kejuru, Petrus Madi, Dan Ginggur, Benyamin Jelami, Alex Jewaru, Monal Ngabut, Sely Jebaru, Sius Bandut (dari Lida), Elis Tuet, Ana Mamu, Darius Kalis (?), Igis Pan , Laurens (Ren) Tote, Dedi Judu / Syukur (?), Erna Ratu (?) , Lin Mbue (Tomus),Gaba Galman, Reny Mue, Vitha (adiknya Paulus Podos), Lidvina Inul (Nune - Satarara), Donika Dajus
Angkatan ketiga (1976-1982: Til Mbembok, Engel Mbaling, Asni Mandi, Yudith Ratu , Rely Mada, Egy Patnistik, Rafael (Satarara), Susana Daud, Vero Nanur, Deme Damus, Anus Patung, Nimus Man, Ety Diut (?) Edu Sanor, Matildis Bidan, Ignas Jemas, Yan Natal, Marsel Sudin, Mateus Lumpak, Bone Madol, Margaretha Ninut, Tuti Judu, Sirilus Jehadun (Si), Gabriel Pon Penegas, Gabriel Wanggor, Marsel Sudin, Anus Sandur (?) , Vero Nanur, Pice Tarang, Agus Ladu, Moni Danut, Mar Ninut (suster) , Ony Tarang, Mus Nalang, Rosalia Linde,
Angkatan keempat (1977-1983):Tarsi Batas, Idus Mbembok, Pepi Pangkat, Kanu, Elsi Kejuru, Agus Belmo, Endi Madur (?), Agus Ladu, Ven Ginggur, Lis Man, Vero Nganul, Lin Agos, Lorens Mandur, Romana Rueng (Lida), Yudith Ratu, Ri Kirim, Mel Panus, Maria, Kanu, Ety Diut, Fer (Satarara), Mar Ninut (suster), Alex Gantur, Baltasar Bung, Ridus Babut (Porong Tedeng),Tony Tarang, Agus Belmo, Sabinus Ladu, Maria Danu - anaknya Kerang, Adel Nai (Lida), Ditha Nambes, Karel Pape (Lida), Rosalia Banur Laho.
Angkatan kelima (1978-1984) : Nelcy Batas, Afri Ketua, Leny Mbembok, Bertolomeus Sarana, Tuti Ratu, Til Kirim, Mensi Baga, Titi Abut, Ferdy Robin Dana, Aven Migun, Sely Madun, Ima Makun, Mel Banut, Let, Martha, , Sophia Jemian, Martina Mamut, John Leam, Agus Abu, Ridus Gandur, Yohanes Mariano, Nobert Sema (Kombek), Ledy, Karel Pape (Lida), Fati (Lida), Sudir (Lida), Ancis (asal Waning, tinggal di Golowelu) -, Sabinus Salut, Sales Gulang, John Pato, Lusia Mil, Fely Mero, Fabi Guman, Theres...........(tinggal di Stanis Duli),
Angkatan keenam (1981-1987): Rely Bagung, Karol Kejuru, Iwan Kirim, Ricky Genggor, Fedis Pangkat, Dedi Tutu, Dus Tutu, Vincent Purnama. Imelda Titi Uwa (Golowelu), Maria Namul (Golowelu), Flaviana (Ana) Daud (Waning- tinggal di Golowelu), Kalis (?) Judu, Frans Jelata, Lely Nimat, Tin Mbambus, Rofina Anur, Katarina (Rina) Namul, Katarna Sena Sedia, Dus Pait, Kani Jelau, Marsel Magul, Edit Murniati, Stanis Bandur, Peo Pandi, Ubaldus Pait, Anus Kako, Mery Danul, Ditha Jiman, Susana Laho, Feli Adi / Ngaba, Petrus Babur, Mikael Dambung., Frans Jehula, Elias Soedarso, Men, Frans Beker, Matilda Eny, Evita Nur, Elisabeth Banur, Emi Hemal Ety Danus (dari Wela), Sofia Danu (), Sudin Sar (Ntalung Pada), Evita Nur (Lida), Anton Tongkok, Paula Pamul, Geradus Kewaru (?) - Lida), Linus Agu (Porong Tedeng), Matilda Eny (Porong Tedeng), Mely Mbue (Epo) , (?) .(anaknya Mbue / Apul),Ery, Ana Bamut, Evy Mamu, Kornelis Misa, Sius Jelalu, Ady Salut, Bone Migu, Detha Jut, Fredy Belmo, Gusty Tarang, Thea Man - anaknya Sebas Man - (Porong Tedeng).Vik.....(tinggal di Pa Agus Abut), Rancis (anaknya Tanta Gina yang tinggal bersama Ibu Ely di Golowelu).
Angkatan ketujuh (1982 -1988): Alex Maji, Santi Ketua, Yasinta Kabelen, Ernes Malohena, Very Mbaling (Almarhum), Imelda Inul, Daniel Dagu, Valens Jenahat, Tarsi Gantura, Elen Baga,, Nimus Agat, Rensi Mandi. Sofia Jelu, Vincent Purnama, Tina .... (adiknya Matilda Eni),Wens Guman, Yohanes Jehut. Hendrikus Aron,
Angkatan ketujuh (1983 -1989): Rensi Mandi, Robert Wardy, Leny Mada, Hendrika Hangul, Mersi Genor,
Angkatan kedelapan (1984 -1990): Wati Ratu, Ema Kirim, Rony Kuang, Jony Jemau, Ino
Jemabut,
_________
Kunjungan Pater Frans Mizaros, SVD ke SDI Golowelu I
Pada tahun 1982 (?) , Golowelu masih bagian dari Paroki Tritunggal Maha Kudus Ranggu. Saat itu Pater Frans Messaros, SVD sebagai Pastor Paroki di sana. Beliau kadang patroli ke Golowelu, termasuk mengunjungi SDI Golowelu I. Ketika Pater Frans dan kudanya tiba, anak-anak berkerumun mau menuapa dan menyalami Pater. Guru meminta anak-anak untuk mencari rumput untuk kudanya Pater Frans Mezaros, SVD. Setelah beberapa saat kemudian, dilanjutkan dengan dengan misa di SDI Golowelu I karena saat itu belum ada Gereja di Golowelu. Ruang yang dipakai untuk misa biasanya bangunan di sebelah barat yang biasa dipakai oleh kelas 4, 5 dan 6. (JPS 17 Nov. 2021)
Misa Pentekosten di Momol
Sekitar tahun 1984 saya dan Pa Simon Batas mengikuti Misa Pentekosta di Momol. Mengapa? Karena di sana ada Misa Pentekosta sekaligus pertandingan sepak bola. Sementara itu di Golowelu tidak ada perayaan Pentekosta karena belum ada Gereja. Rupanya saya dengan beberpa teman tapi saya lupa siapa mereka itu. Kami mungkin mendengar informasi dari sekolah bahwa di Momol ada Misa Pentekosta. Lalu kami ke sana. Kami jalan kaki. Rupanya misa dilaksnakan di SDK Momol. Setelah itu ada pertandingan sepak bola. Kami nonton sebentar. Sorenya kami pulang. Kami jalan kaki dari Momol menuju Golowelu lalu saya terus ke kampung saya, Wela. ((JPS 17 Nov. 2021)
________________
Berdasarkan kisah Ibu Retno Marsudi
(Mentri Luar Negri era Jokowi 2014 - 2024 dan Ibu Sri
Mulyani, Mentri Keuang Era SBY dan Jokowi). Menurut mereka
yang pernah mengalami hal itu, tahun 1978, ada perubahan
kurikulum terutama waktu belajar, sehingga durasi belajar menjadi
lebih lama menjadi 6 bulan . (https://www.youtube.com/watch?v=FJITgDCIQBQ)
JPS, 14 Maret 2024.
__________
Kepsek
- Donatus Jenali dari Rawuk, 1974 -
- Thomas Mbembok
- Yoseph Bensa
- Simon Batas, 1982 -
- Ambros Madut
- Niko Anus
- Maksimus Kahar
- Bernadeta Juju
- Donatus Jenali
- Yuliana Maria Ju
- Thomas Mbembok
- Lidvina Inul
- Yoseph Bensa
- Ely Pangul
- Mateus Ketua (almarhum)
- Xaveriana Selima
- Melania Nia (almarhumah+ 2025, usia 90 - an? )
- Yan Jeheman (tidak lama, lalu pindah) - 3 atau 4 thn , nikah dgn anak SPG yang praktek mengajar di Golowelu? .
- Simon Batas
- Kandida Jemimun (almarhumah)
- Antonia Gunung (sudah pindah ke Pagal thn 1982 atau 1983 karena mengikuti suami)
- Alex Kabelen
- Mery (dari Pau Ruteng)
- Agus Abut
- Monika
- Nella
- Adi Dadus
- Eny
Penyebaran Alumni
- Surabaya: Tarsi Kejuru, Dedi Judu / Syukur (?), Bertolomius Sarana,
- Malang - Kediri : Anton Adiman, Tuti Judu (?), Henrika Hangul, Mery Mulyadi, Ety Diut, Gregorius Wanggor,
- Mataram: Petrus Madi (sudah pindah ke Golowelu), lalu ke Mataram lagi.
- Bali: Pepi Pangkat
- Jakarta/ JABODETABEK: Oca Mbaling, Tony Mbaling, Engel Mbaling, Ferry Mbaling, Elen Baga, Tini Bensa, Eping Bensa, Rony Kuang, Jeny Hamzah (?) Egy Patnistik, Tony Tarang, Ferdy Dana, Frans Jelata, Alex Maji, Tarsi Gantura, Robert Wardy, Ino Jemabut, Petrus (Pice) Tarang, Dion Man, Tomy Sokang.
- Kalimantan: Jony Jemau, Feli Mero, Ernestine Malohena, Sr. Sophy Jemian, John Pato, Beltasar Bung,
- Makasar: Fely Ngaba, Aven Migun, Marselinus Jehadun,
- Cancar: Leny Mbembok, Lely Nimat, Mery Danul, Anus Kako
- Ruteng: Dus Tutu, Dedi Tutu (drg.), Deme Damus, Rofina Anur
- Satarara: Mikael Dambung, Petrus Babut, Sales Gulang, Alex Ruhan, Men. Elias Sudarso
- Wela: Benyamin Jelami, Edu Sanor, Sely Jebaru, Monal Ngabut, Vero Nganul, Lin Agos, Ridus Gandur, Marsel Magul, Endy Madur, Yan Ano, Alex Gantur, Daniel Dagu, Yohanes Pandi, Stanis Bandur, Ery,
- Golowelu: Ri Kirim, Susana Daud, Mel Panus, Romana Rueng, Rely Bagung, Tus Man, Ino Manto (?), Fedis Pangkat, Anus Patung, Ema Mbembok, Edy Magur, Sius Bandut, Wily Bensa, Arson Bensa,
- Lida: Yan Natal, Lovi,
- Porong Tedeng: Marsel Sudirman (?), Lin Mbue, Darius Kalis (Songeng), Lorens (Ren), Ridus Babut, Linus Agu, Adi Salut,
- Labuan Bajo: Karol Kejuru, Ricky Genggor, Afri Ketua, Jimmy Ketua, Charles Ketua, Ervas Ketua, Nety, Kartin, Rensi Mandi, Iwan Kirim, Ema Kirim,
- Terang: Nobert Magur, Yos Kirim, Detha Jut
- Hongkong: Ali
- Kalimantan: Sr. Sophy, Felix Adi (Mero), Yohanes Jemau, Ernest Malohena
Lida; Polus Nurut;
Porong Tedeng; Feliks Takur, Lorens Tote, Darius Kalis, Lin Mbue,Polus Pantur (?)
SATAR ARA;
Angkatan I:
- RIKA BANUT
- ONI ........
- MAXI KAHAR - KINI PENGAWAS SEKOLAH
- POLUS PODOS - GALANG - ORONG
- ....................................
- LIDVINA INUL - NUNE -
- ........................
- Oca Mbaling
Note:
Beny Jelami termasuk angkatan pertama SDI Golowelu I. Namun, dia tak serius sekolah pada tahun pertama karena tidak ada pakaian. Dia pernah ke sekolah pakai sarung (towe) karena tidak ada celana yang bagus. Mungkin karena jarang ke sekolah maka Beny tak serius, lalu tinggal atau ulang kelas.
Guru pertama: Donatus Nagong (Jenali), lalu Ibu Yuliana Maria Ju.Pa Donatus Jenali menempati rumah dalam kompkes sekolah. Ibu Yuliana menempati rumah di sebelah timur sekolah. Di situ ada rumah yang atapnya terbuat dari alang-alang. Orang tua murid membantu membangun rumah bagi guru-guru. Orang Wela membangun satu rumah, yang kemudian ditempati oleh Pa Matius Ketua dan Ibu Ana sekeluarga. Orang Satarara membangun sebuah rumah papan yang kemudian ditempati oleh Ibu Yuliana Maria Ju sekeluarga , orang Lida Porong Tedeng membangun sebuah rumah papan yang kemudian ditemati oleh Ibu Lidvina Inul sekeluarga. Gedung sekolah dan 3 rumah tembok untuk guru dibangun oleh pemerintah. Tiga rumah tembok bantuan pemerintah itu dihuni oleh Pa Yan Hagang sekeluarga, Pa Yoseph Bensa sekeluarga, Pa Simon Batas sekeluarga. Di belakang (sebelah utara) sekolah ada WC yang dibangun swadaya masayarakat yang beratapkan ijuk, beralaskan papan / kayu gelondongan. Pada awalmya , SDI Golowelu ini dibangun atas dasar kerja sama pemerintah dan masyarakat. Pastisipasi masyarakat sangat besar dalam membangun sekolah, terutama rumah guru. Ada tiga rumah guru yang dibangun masyarakat . Beberapa unit rumah guru dan rumah penjaga sekolah dibangun oleh pemerintah, yakni rumah Kepla sekolah , rumah guru dan rumah penjaga sekolah. Dalam perjalanan waktu, para guru mebangun rumah pribadi.
Angkatan II
- Tarsy Kejuru
- Beny Jelami
- Petrus Madi
- Alex Jewaru
- Mery Mulyadi
- Dedy Judu
- Tony Mbaling
- Elis Tuet
- Lin
Angkatan III
- Til Mbembok
- Engel Mbaling
- Egy Patnistik
- Edu Sanor
- Susana Daud
- Margaretha Ninut (Sr. Sista, PRR)
Usulan untuk dikembangkan di Golowelu:
PENGHUNI AWAL GOLOWELU:- Tanam Kemiri (Welu) di Kebun Sekolah / Halaman supaya cocok nama dengan realitas.(VMG, 7 Maret 2019, JPS 9 Maret 2019).
- Perlu menanam Enau (Raping) di kebun sekolah. Raping dan Welu harus jadi identitas sekolah.
- Dalam rangka menjaga privasi guru dan kenyamaaan anak-anak yang ikut lomba di tingkat kabupaten, sangat etis kalau, waktu studi anak-anak biar di sekolah saja, tak perlu datang di rumah guru / kepsek. Supaya lebih berhasil lagi, baik kalau kita memperhatikan metode / strategi persiapan Lomba, yakni membentuk team kerja guru berdasarkan kompetensi, siapa menangani apa, kapan, bagaimna? Adalah baik memperhatikan kapan persiapan itu dilakukan, sambil memperhatikan detail-detail yang perlu, termasuk balas jasa guru yang membimbing, kalau bisa dialokasikan dari BOS tentu sangat baik. (VMG, 7 Maret 2019, JPS 9 Maret 2019).
- "Belajarlah sampai ke negeri Cina". Cina menguasai dunia. Maka kita perlu belajar dari Cina. Belajar dagang. Untuk bisa belajar dari orang Cina, perlu tahu kebudayaan Cina, supaya tahu kebudayaan Cina , perlu belajar bahasa Cinba (Mandarin). Di SDI ada beberapa bahasa yang kita pakai, Bahasa Manggarai (Bahasa Ibu), Bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. (VMG, 7 Maret 2019, JPS 9 Maret 2019), serta BAHASA KOMPUTER (Pemrograman) ( Inspirasi dari uusulan Tomy Sokang, alumni yang tinggal dan bekerja di Jakarta).
- Perlu membentuk Wadah Alumni, lalu mendirikan CU sebagai wadah perjuang ekonomi secara bersama. Anak-anak SD dan orang tuanya perlu diperkenalkan dan mengenal CU.
- Sekoah perlu mendorong anak-aak untuk kerampilan memasak, menari.
- Sekolah berpihak kepada lingkungan, terutama air. PBB sudah mengingatkan kita akan hal ini dengan mengatakan bahwa :Perang masa depan adalah perseteruan memperebutkan air. Sejauh mana kita menghijaukan lingkungan kita dengan menanam pohon? (JPS 3 November 2020)
Kraeng Imun
.....Ngamal
Kons Kejuru
Kantor Camat Kuwus awalnya di rumahnya Yoseph Guman.
(Informan: Kak Beny Jelami, telepon 16 Agustus 2019)
_____________________________
Pastor yang singgah di SDI Golowelu I
- Pater FranzMezzaros, SVD. Pater Frans Mezzaros,SVD sangat melegenda di jazirah Kolang. Saya masih ingat beliau mengunjungi Golowelu, misa di SDI Golowelu I. Saat itu Gereja Golowelu belum ada. Beliau datang dgn kuda nya. Pa Yosef dan Ibu Ely meminta anak anak cari rumput utk pakan kuda.
- [17:05, 6/21/2020] Ferdy RD Bapa Angelo: Sy juga dulu pernah cari weteng utk kuda beliau
- [17:06, 6/21/2020] Frans Jelata: Misionaris yg hebat. Bisa lancar berbahasa Indonesia dan Bahasa Kolang.
- [17:07, 6/21/2020] Frans Jelata: Beliau sangat ramah, cepat menghafal nama orang. π
- [17:07, 6/21/2020] Ferdy RD Bapa Angelo: Terakhir bertemu Beliau taon 2005. Beliau mau ke Dahang mimpin misa syukur keluarga Dorteus Jaga, seperti biasa beliau jalan kaki dr Tueng dan sy pakai ojek mau ke Lambur pergi nonton caci syukuran tahbisan Pater Ikus Magang, SVD
- [17:10, 6/21/2020] Frans Jelata: Beliau ikut misa syukur Pater Ikus Magung di Lambur?
- [17:12, 6/21/2020] Ferdy RD Bapa Angelo: Sepertix iya, karena katax beliau senang sekali karena dibayar tuntas sama org Kolang dg mengirim missionaris, putra Kolang sendiri ke Hongaria, tempat asal pater Franz
- [17:17, 6/21/2020] Frans Jelata: Betul e. Sayang Pater Modes Lando,SVD , Putra Paroki Orong yg bermisi di Hongaria juga keburu dipanggil Tuhan beberapa waktu yang lalu. π
- [17:17, 6/21/2020] +62 822-5421-1350: Ata di'a Tuang hitue Pak Ferdi dan Pak Frans, Dia selalu dikenang oleh umat paroki Ranggu.
- [17:18, 6/21/2020] Ferdy RD Bapa Angelo: Iya. Paling tdk Pater Franz merasa dihargai atas pengorbananx dg 2 misionaris itu
- [17:22, 6/21/2020] Frans Jelata: Itu sudah Kraeng John. Kita rasa waw begitu ketika ada misionaris berbicara bahasa lokal, termasuk Bah. Kolang. π
- [17:23, 6/21/2020] Ferdy RD Bapa Angelo: Ada Pastor yg bertugas di Ranggu yg meninggalkan imamatx usai kepergian Pater Franz. Ase kae kolang ada yg menafsirkan "mungkin karena toe di Kelas lite Tuang Mezzaroh hoo, makax dibuatlah Pesta kelah hitu berapa taon lalu dan puji Tuhan Rm Patris Bolar, pr yg bertugas di Ranggu usai kelah hitu berjalan mulus sampai beliau pindah tugas ke Paroki Cancar. Enyahlah ada hubungannya.
- [17:24, 6/21/2020] Ferdy RD Bapa Angelo: Entahlah
- [17:38, 6/21/2020] +62 815-9851-493: Beliau meninggal di mana?
- [17:40, 6/21/2020] +62 815-9851-493: Pernah sekali menginap di rumah karena kemalaman. Saya bangun tengah malam, kaget ketakutan lihat beliau tidur di tempat tidur bawah .
- [17:42, 6/21/2020] Ferdy RD Bapa Angelo: Meninggal di Hongaria
- [17:44, 6/21/2020] +62 815-9851-493: Oo beliau sdh kembali.
- [18:24, 6/21/2020] +62 815-9851-493: Saya masih menyesal, foto2 di pemakaman misonatris SVD di Teteringen, foto di makam St Arnoldus (pendiri SVD), foto bersama Sr Virgulla hilang bersama hp.
- [19:45, 6/21/2020] +62 813-5348-3553: Semoga beliau memberkati kita semuanya, terima kasih banyak pater Mizaros. saya ingat dengan π nya yang pintar, mengetahui kemana dia berkunjung, waktu itu rumah BPK Thomas di ujung sekolah golowelu 1, π nya pater Mizaros di situ dia akan beristirahat, dia berhenti persis depan rumah nya. Selang tiga puluh menit kemudian pater Mizaros datang.
- [20:26, 6/21/2020] Frans Jelata: Luar biasa Kae. Kuda pintar. Terima kasih sudah berbagi kisah.
- [10:04, 6/22/2020] +62 812-1235-8313: Trimakasih kepada umat yg telah memenuhi aturan new normal ini, semoga seluruh umat greja HKY ini di selamatkan dari Covid 19. Suatu hal yg sangat kita prihatin bahwa satu satunya Gereja Paroki yg tidak memiliki Candi yg layaknya sebagai gedung Gereja...mungkin kita perlu usulkan dan mengumpulkan dana πππ
- [10:10, 6/22/2020] +62 822-5421-1350: Benar e Pak Feliks, persis bangunan serba guna.
- [10:32, 6/22/2020] Ferdy RD Bapa Angelo: Gereja Golowelu saat peletakan batu pertama, 18 Juli 1983 memang dirancang sbg gedung serbaguna sehingga sering dipakai pemerintah utk penataran p4, simulasi kb, sarasehan dg warga desa sekecamatan kuwus tp seiring perjalanan waktu difokuskan utk ibadah. Sy ingat dulu misa peletakan batu pertama di Golowelu 1, sbg persembahan pertama dr pater marcel agot sbg im baru ditahbiskan di Goliwelu, tepat hari ini 22 Juni 1983. Pater Franz yg seharusnya jadi selebran utama akhirnya hanya mendampingi Pater Marcel Agot. Pater Wasser yg dijadwalkan ikut konselebransi itu tdk jadi datang. Mungkin ada halangan
- [10:35, 6/22/2020] Frans Jelata: Kraeg Ferdy punya ingatan yang luar biasa. π
itulah maksud saya sebaiknya kita pisahkan antara gedung gereja dan serbaguna....pertemuan pemerintah jgn lagi pakai gedung gereja..karna pemerintah bisa manfaatkan kantor camat yg lama arah ke satarara dengan dana pemerintah yg banyak gini sebaiknya udah bisa bangun gedung serbaguna di golowwlu dari dana pemerintah tinggalkan jaman kita dulu ya pa Sekcam π
π
π
neka rabo mori sekedar usul.
___________________
DERE DU SD GOLOWELU:
1. ADIOS (Bahasa Spanyol)
Adios...adios , kuterkenang, saat silam, saat kita bergurau bersama.
Kini kulepaskan kaupergi.
Kutiup seruling keangan
Berlagu adios sayang.
NB: Adios (Bahasa Sanyol) yang berarti: selamat tinggal
Anak-anak SD I Golowelu I susah mulai diperkenalkan oleh guru-guru bahasa Asaing, termasuk Bahasa Spayol.
2. BERPISAH BUKAN BERARTI MATI
1. Habislah saat yang penuh kesan,
Berandai (?) nikmat dan rawan (?)
Berlindang air mata simpanan (?)
Berbunga senyum rela berkorban
Selamat jalan, selamat jelan, samapai jumpa lagi.
2. Berpisah bukan berarti mati
Besok lusa jumpa lagi
Berlindang air mata simpanan (?)
Berbunga senyum rela berkorban
Selamat jalan, selamat jalan, samapai jumpa lagi.
JPs, 8 November 2024.
Comments
Post a Comment