PERANAN SDI GOLOWELU I BAGI MASYARAKAT

 PERANAN SDI GOLOWELU I BAGI MASYARAKAT

Peran SDI Golowelu I bagi masyarakat:

  1. Meningkatkan akselerasi pemerataan kesempatan belajar  bagi  masyarakaat  sekitar sekolah. 
  2. Meningkatkan akselerasi penyampaian ilmu pengetahuan, termasuk pentingnnya kesehatan:  ada WC  di sekolah, lalu anak-anak  membandingkan dengan situasi di rumah. Di kemudian hari, anak-anak turut memprakarsi pembangunan WC di kampung / rumah sendiri. Pengalaman anak-anak di Rumah Gendang Wela paling  tidak. Sebelumnya kami tidak punya kakus,   buang wc  sembarangan. Tahun 1980-an,   saat  libur, saya dan teman-teman  berdiskusi untuk membuat WC umum di belakang  dapur rumah  Gendang Wela. 
  3. Merawat kemajemukan suku. SDI Golowelu mendidik anak-anak dari  beberapa komunitas / kampung, seperti Golowelu, Satarara, Wela, Lida, Porong Tedeng  dengan mengusung  kebudayaan 3 kedaluan yakni Kolang (Golowelu dan Satarara), Ndoso (Golowelu, Lida, Porong Tedeng) dan Lelak (Wela). Pertemuan dan pembauraan  beragam suku dan budaya ini  bukannya terjadi pada anak-anak dan orang tua tetapi juga pada para  guru. Untuk para  guru  tentu lebih majemuk lagi  karrna ada yang berasal dari  suku  dan budaya  lain.  Meski beragam, tampak bisa menjalin  persatuan  dan kesatuan dalam bingkai prinsip dasar   NKRI, Pancasila dengan slogan utama: Bhinneka Tunggal Ika,  berbeda-beda tetapi tetap satu. 
  4. Mengajarkan Pengetahaun, termasuk Bahasa (Indonesia, Manggarai. Asing (Spanyol: Adios _ Lagu Perpisahan kelas 6.  Thn 1984/1985, lalu anak-anak dengar, lalu   dengar  dari mereka.)
  5. Panci peleburan(Melting Pot)  budaya. Ada 4 komunitas yang mewakili 4 budaya, yakni Satarara mewakili  budaya Kolang, Lida - Porong Tedeng mewakii  budaya Ndoso,  Wela mewakili budaya Lelak  dan Golowelu  mewakili budaya Nusantara (termasuk Budaya  Bali)  bahkan   dunia. Secara  tidak langsung  komunitas SDI Golowelu I  bersentuhan dengan beragam budaya itu.  (JPS , 16 September 2021). 
  6. Mendidik anak-anak untuk mengenal Ilmu Pengetahuan teoretis  dan juga praktis, termasuk bagaimana membuat pagar hidup  menggunakan  kayu hidup yakni  Kaweng. 

SDI Golowelu I  berdiri 1 Januari tahun 1974.  Pada  1 Januari 2021   usianya  menginjak 47 tahun dan 1 Januari 2024  memasuki usia  emas, 50 tahun.  Dalam kurun waktu demikian apa saja peran SDI  Golowelu I bagi  masyarakat?

SDI Golowelu I melayani pendidikan anak-anak sekolah dasar untuk beberapa  tempat / kampung yakni, Golowelu, Satarara, Wela, Lida, Porong Tedeng  bahkan  Dahang. 

Kehadiran SDI Golowelu I turut memudahkan akses pendidiikan bagi bebrapa  komunitas atau kampung di atas.  Dengan kehadiran SDI Golowelu I, semangat anak-anak untuk sekolah semakin tinggi karena  daya tempuh  yang semakin  dekat. . Partisipasi dan semangat  anak-anak untuk   menyeyam pendidikan semakin meningkat.  Alumni SDI Golowelu I tersebar dalam pluralitas pekerjaan, misalnya petani, ASN, karyawan swasta, pebisnis (?), pekerja kemanusiaan.

Kehadiran SDI Golowelu I turut memberikan dampak kemajuan bagi perkembangan  masyarakat sekitar, di mana secara  kuantitatif masyarakat yang sekolah, baik level menengah maupun tinggi meningkat dari tahun ke tahun.  Peningkatan kuantitatif ini tak lepas dari daya jangkuan sekolah yang semakin mendekati kampung-kampung warga.  Sebelumnya orang  orang Wela, Lida, Porong Tedeng, Golowelu, Satarara mengenyam pendidikan di tempat jauh,  misalnya di Coal, Lewur, Ranggu bahkan Ketang, Berkat  kemajuan pendidikan dan peradaban bangsa,  lembaga-lembaga pendidikan  hadir lebih dekat di wilayah pemukiman warga, termasuk SDI Golowelu I.

Sejak berdirinya 1 Januari  1974,     para guru, para murid  dan orang tua  bahu membahu membenah diri, antara lain menata lingkungan sekolah  agar   lebih  aman dari berbagai gangguan, terutama gangguan binatang liar, seperti babi hutan. Pada era 1974, orang  tua  berpartisipasi  dalam pengadaan  rumah bagi  para guru. Setiap kampung  membangun   satu rumah guru. Rumah - ruah itu  beratap seng  , berdinding papan dan berlantai  tanah.  Rumah-rumah itu kemudian ditempati oleh Pa Mateus Ketua / Ibu Ana, Ibu Yuliana Maria Ju dan  Ibu Lidvina Inul.   Selain itu , ada tiga  rumah  tembok yang dibangun oleh pemerintah. Rumah itu ditempati oleh  Pa Yohanes Hagang (penjaga sekolah / Tenaga kependidikan), Pa Yoseph Bensa / Ibu Ey Pangul  dan Pa Simon Batas /Ibu Kandida Jemimun. Sejak awal partisipasi  pemerintah dan masyarakat  sudah sangat tampak  dalam  memajukan pendidikan di SDI Golowelu I.   Dalam rangka keamanan bangunan sekolah dan tanaman serta bangunan maka dibuatlah pagar keliling sekolah. Para guru menggerakkan anak-anak untuk berpartisipasi  dalam pembuatan got  dan  pagar sekolah. Di bawah pimpinan   Pak Yan  Hagang, anak-anak berpartisipasi merapihkan lingkungan.  Anak laki-laki  masuk keluar hutan  untuk mengambil kayu  untuk  memagari lingkungan sekolah.  Mulanya  pagar menggunakan kayu  mati. Namun, ada perubahan bahwa  demi kelestarian hutan dan efisiensi tenaga dan waktu  serta manfaat kesehatan akan udara yang bersih maka kayu mati digantik dengan  kayu  yang  berpeluang untuk tumbuh dan hidup kembali. Maka diplihlah kayu  lantana (Lantana camara linn)   /   Kembang Tembelak / Tembelakan   (kaweng, Bahasa Manggarai)  sebagai pilihan utama. Anak-anak harus membawa  kayu lantana /   Kembang Tembelak / Tembelakan  untuk pembuatan pagar hidup, , Kayu lantana ditanam terutama  di bagian  selatan sekolah. Selain untuk pagar, lanatana ternyata bisa dijadikan obat luka, terutama daunnya.  Tentang lantana  bisa disimak pada link berikut (https://www.google.com/search?gs_ssp=eJzj4tTP1TcwMkovSTFg9GLPScwrScxLBAA6sAYT&q=lantana&oq=Lantana&aqs=chrome.1.0i67i131i355i433i512i650j46i67i131i340i433i512i650l2j0i512l4j46i175i199i512j46i512j46i175i199i512i664.9608j0j15&sourceid=chrome&ie=UTF-8#fpstate=ive&vld=cid:368ba0e4,vid:NCsmWQ5ZF8M,st:0) ;  

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4577502/tembelekan-tumbuhan-berkhasiat-yang-banyak-tumbuh-di-taman-nasional-gunung-ceremai?page=4

(  Di  kebun sekolah ditanami berbagai macam tumbuhan, misalnya pisang, cengkeh , lamtoro gung, ampupu. dadap dan kopi serta teno. Selain itu ditanami juga rumput  gajah (weteng)  dan bauh-buahan, misalnya  advokat, nanas, pisang Selain  ini ada  jenis umbia-umbian,misalnya ubi kayu, ubi talas dan ubi jalar (tete wase) . Selain itu  masih ada  rempah-remah obat atau bumbu dapur seperti  kunyit (wunis), serai (lasi teu) , laos /lengkuas (laja). Selain itu ada  kayu manis (ndingar).  Selain itu ada tanaman hias berupa bunga-bunga. Para  guru rajin menanam bunga di pekarangan rumah mereka sehingga menambah keindahan lingkuangan sekolah. Bunga - bunga yang di tanam seperti kembang sepatu, bougencille, dll.   Di sini  SDI  Golowelu I  turut melestarikan vegetasi alam Manggarai  di kebun sekolah. 


HARAPAN  USULAN  TERHADAP SDI GOLOWELU I

  1. Tetaplah menjujung nasionalisme bangsa  merawat Pancasila  dan UUD 1945
  2. Sekolah berwawasan   lingkungan : penggerak perawat hutan, mata air, buah-buahan (mangga, pisang, nanas).  Kebun sekolah dibagi  per kelas, bisa  ditanam apa: pisang,  Mangga.  Dadap.  Teno, Kayu Wodong (tempat  sarang _ Mando _ Ulat Bulu yang bisa dimakan _ 
  3. Sekolah  berwawasan  budaya _  di pinggir pagar  bisa ditanam  enau  untuk mencegah longsor sekaligus  mengajarkan  Pante  Tuak (Mince). . 
  4. Sekolah berwawasaan enterpreneuship  (kuliner, kerajinan lokal, dll). Perlu belajar dari orang Cina: bakat berdagang,  juara  menjual, 
  5. Sekolah  melek  teknologi
  6. Mewujudkan nomen est omen  (name is sign ) = nama adalah tanda. Golowelu awal mulanya adalah  bukit perjumpaan dalam memadu kasih pada zaman dulu. Sepasang muda mudi  janjian untuk memmadu kasih sambil membawa  souvenir masing-masing. Perempuan membawa kemiri untuk  meminyaki kepala pria. Kegitan  membasuh rambut ini dalam  Bahasa Manggarai disebut rono.   Ketika selesai  rono,  remah-temah   kamiri ( welu )  jatuh ke  tanah.  Pemandangan ini  terjadi di bukit kawasan ini, maka   wilayah ini disebut  Golowelu.  Berkaitan  dengan anama adalah tanda (nomen est omen)   kita perlu nenanam kemiri di  bukit Golowelu ini.. Bisa ditanam di Bukit sebelah Utara Timur Laut SDI Golowelu I. Sekaligus itu dijadikan  sebagai  obyek wisata  baru. Juga   taman Kemiri di Dekat Pagar  bagian Selatan Sekolah.   Perlu bersinergi  dengan  pengurus Bukit  Porong  dan PEMDA, baik tingkat desa, Kecamatan maupun  Kabupaten. (JPS, 3 Desember 2021).
  7. Sekolah Penjaga dam perawat  alam (Sekola Riang Puar). Dere  Sanda_ Riang Puar: :  Sako: " Riang ga, riang  puar  riang  ga, hoo d de  mbate  dise  ame. Wale:  Riang  go, riang  sama,  riang  go, hoop  de  mbate  dise ame.   (JPS, 5 Des. 2021).


Comments

Popular posts from this blog

MENUJU USIA EMAS SDI GOLOWELU I

SEKOLAH DAN GURU _ GURU PERTAMA DI MANGGARAI