PERANAN SDI GOLOWELU I BAGI MASYARAKAT
PERANAN SDI GOLOWELU I BAGI MASYARAKAT
Peran SDI Golowelu I bagi masyarakat:
- Meningkatkan akselerasi pemerataan kesempatan belajar bagi masyarakaat sekitar sekolah.
- Meningkatkan akselerasi penyampaian ilmu pengetahuan, termasuk pentingnnya kesehatan: ada WC di sekolah, lalu anak-anak membandingkan dengan situasi di rumah. Di kemudian hari, anak-anak turut memprakarsi pembangunan WC di kampung / rumah sendiri. Pengalaman anak-anak di Rumah Gendang Wela paling tidak. Sebelumnya kami tidak punya kakus, buang wc sembarangan. Tahun 1980-an, saat libur, saya dan teman-teman berdiskusi untuk membuat WC umum di belakang dapur rumah Gendang Wela.
- Merawat kemajemukan suku. SDI Golowelu mendidik anak-anak dari beberapa komunitas / kampung, seperti Golowelu, Satarara, Wela, Lida, Porong Tedeng dengan mengusung kebudayaan 3 kedaluan yakni Kolang (Golowelu dan Satarara), Ndoso (Golowelu, Lida, Porong Tedeng) dan Lelak (Wela). Pertemuan dan pembauraan beragam suku dan budaya ini bukannya terjadi pada anak-anak dan orang tua tetapi juga pada para guru. Untuk para guru tentu lebih majemuk lagi karrna ada yang berasal dari suku dan budaya lain. Meski beragam, tampak bisa menjalin persatuan dan kesatuan dalam bingkai prinsip dasar NKRI, Pancasila dengan slogan utama: Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.
- Mengajarkan Pengetahaun, termasuk Bahasa (Indonesia, Manggarai. Asing (Spanyol: Adios _ Lagu Perpisahan kelas 6. Thn 1984/1985, lalu anak-anak dengar, lalu dengar dari mereka.)
- Panci peleburan(Melting Pot) budaya. Ada 4 komunitas yang mewakili 4 budaya, yakni Satarara mewakili budaya Kolang, Lida - Porong Tedeng mewakii budaya Ndoso, Wela mewakili budaya Lelak dan Golowelu mewakili budaya Nusantara (termasuk Budaya Bali) bahkan dunia. Secara tidak langsung komunitas SDI Golowelu I bersentuhan dengan beragam budaya itu. (JPS , 16 September 2021).
- Mendidik anak-anak untuk mengenal Ilmu Pengetahuan teoretis dan juga praktis, termasuk bagaimana membuat pagar hidup menggunakan kayu hidup yakni Kaweng.
SDI Golowelu I berdiri 1 Januari tahun 1974. Pada 1 Januari 2021 usianya menginjak 47 tahun dan 1 Januari 2024 memasuki usia emas, 50 tahun. Dalam kurun waktu demikian apa saja peran SDI Golowelu I bagi masyarakat?
SDI Golowelu I melayani pendidikan anak-anak sekolah dasar untuk beberapa tempat / kampung yakni, Golowelu, Satarara, Wela, Lida, Porong Tedeng bahkan Dahang.
Kehadiran SDI Golowelu I turut memudahkan akses pendidiikan bagi bebrapa komunitas atau kampung di atas. Dengan kehadiran SDI Golowelu I, semangat anak-anak untuk sekolah semakin tinggi karena daya tempuh yang semakin dekat. . Partisipasi dan semangat anak-anak untuk menyeyam pendidikan semakin meningkat. Alumni SDI Golowelu I tersebar dalam pluralitas pekerjaan, misalnya petani, ASN, karyawan swasta, pebisnis (?), pekerja kemanusiaan.
Kehadiran SDI Golowelu I turut memberikan dampak kemajuan bagi perkembangan masyarakat sekitar, di mana secara kuantitatif masyarakat yang sekolah, baik level menengah maupun tinggi meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan kuantitatif ini tak lepas dari daya jangkuan sekolah yang semakin mendekati kampung-kampung warga. Sebelumnya orang orang Wela, Lida, Porong Tedeng, Golowelu, Satarara mengenyam pendidikan di tempat jauh, misalnya di Coal, Lewur, Ranggu bahkan Ketang, Berkat kemajuan pendidikan dan peradaban bangsa, lembaga-lembaga pendidikan hadir lebih dekat di wilayah pemukiman warga, termasuk SDI Golowelu I.
Sejak berdirinya 1 Januari 1974, para guru, para murid dan orang tua bahu membahu membenah diri, antara lain menata lingkungan sekolah agar lebih aman dari berbagai gangguan, terutama gangguan binatang liar, seperti babi hutan. Pada era 1974, orang tua berpartisipasi dalam pengadaan rumah bagi para guru. Setiap kampung membangun satu rumah guru. Rumah - ruah itu beratap seng , berdinding papan dan berlantai tanah. Rumah-rumah itu kemudian ditempati oleh Pa Mateus Ketua / Ibu Ana, Ibu Yuliana Maria Ju dan Ibu Lidvina Inul. Selain itu , ada tiga rumah tembok yang dibangun oleh pemerintah. Rumah itu ditempati oleh Pa Yohanes Hagang (penjaga sekolah / Tenaga kependidikan), Pa Yoseph Bensa / Ibu Ey Pangul dan Pa Simon Batas /Ibu Kandida Jemimun. Sejak awal partisipasi pemerintah dan masyarakat sudah sangat tampak dalam memajukan pendidikan di SDI Golowelu I. Dalam rangka keamanan bangunan sekolah dan tanaman serta bangunan maka dibuatlah pagar keliling sekolah. Para guru menggerakkan anak-anak untuk berpartisipasi dalam pembuatan got dan pagar sekolah. Di bawah pimpinan Pak Yan Hagang, anak-anak berpartisipasi merapihkan lingkungan. Anak laki-laki masuk keluar hutan untuk mengambil kayu untuk memagari lingkungan sekolah. Mulanya pagar menggunakan kayu mati. Namun, ada perubahan bahwa demi kelestarian hutan dan efisiensi tenaga dan waktu serta manfaat kesehatan akan udara yang bersih maka kayu mati digantik dengan kayu yang berpeluang untuk tumbuh dan hidup kembali. Maka diplihlah kayu lantana (Lantana camara linn) / Kembang Tembelak / Tembelakan (kaweng, Bahasa Manggarai) sebagai pilihan utama. Anak-anak harus membawa kayu lantana / Kembang Tembelak / Tembelakan untuk pembuatan pagar hidup, , Kayu lantana ditanam terutama di bagian selatan sekolah. Selain untuk pagar, lanatana ternyata bisa dijadikan obat luka, terutama daunnya. Tentang lantana bisa disimak pada link berikut (https://www.google.com/search?gs_ssp=eJzj4tTP1TcwMkovSTFg9GLPScwrScxLBAA6sAYT&q=lantana&oq=Lantana&aqs=chrome.1.0i67i131i355i433i512i650j46i67i131i340i433i512i650l2j0i512l4j46i175i199i512j46i512j46i175i199i512i664.9608j0j15&sourceid=chrome&ie=UTF-8#fpstate=ive&vld=cid:368ba0e4,vid:NCsmWQ5ZF8M,st:0) ;
https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4577502/tembelekan-tumbuhan-berkhasiat-yang-banyak-tumbuh-di-taman-nasional-gunung-ceremai?page=4
( Di kebun sekolah ditanami berbagai macam tumbuhan, misalnya pisang, cengkeh , lamtoro gung, ampupu. dadap dan kopi serta teno. Selain itu ditanami juga rumput gajah (weteng) dan bauh-buahan, misalnya advokat, nanas, pisang Selain ini ada jenis umbia-umbian,misalnya ubi kayu, ubi talas dan ubi jalar (tete wase) . Selain itu masih ada rempah-remah obat atau bumbu dapur seperti kunyit (wunis), serai (lasi teu) , laos /lengkuas (laja). Selain itu ada kayu manis (ndingar). Selain itu ada tanaman hias berupa bunga-bunga. Para guru rajin menanam bunga di pekarangan rumah mereka sehingga menambah keindahan lingkuangan sekolah. Bunga - bunga yang di tanam seperti kembang sepatu, bougencille, dll. Di sini SDI Golowelu I turut melestarikan vegetasi alam Manggarai di kebun sekolah.
HARAPAN USULAN TERHADAP SDI GOLOWELU I
- Tetaplah menjujung nasionalisme bangsa merawat Pancasila dan UUD 1945
- Sekolah berwawasan lingkungan : penggerak perawat hutan, mata air, buah-buahan (mangga, pisang, nanas). Kebun sekolah dibagi per kelas, bisa ditanam apa: pisang, Mangga. Dadap. Teno, Kayu Wodong (tempat sarang _ Mando _ Ulat Bulu yang bisa dimakan _
- Sekolah berwawasan budaya _ di pinggir pagar bisa ditanam enau untuk mencegah longsor sekaligus mengajarkan Pante Tuak (Mince). .
- Sekolah berwawasaan enterpreneuship (kuliner, kerajinan lokal, dll). Perlu belajar dari orang Cina: bakat berdagang, juara menjual,
- Sekolah melek teknologi
- Mewujudkan nomen est omen (name is sign ) = nama adalah tanda. Golowelu awal mulanya adalah bukit perjumpaan dalam memadu kasih pada zaman dulu. Sepasang muda mudi janjian untuk memmadu kasih sambil membawa souvenir masing-masing. Perempuan membawa kemiri untuk meminyaki kepala pria. Kegitan membasuh rambut ini dalam Bahasa Manggarai disebut rono. Ketika selesai rono, remah-temah kamiri ( welu ) jatuh ke tanah. Pemandangan ini terjadi di bukit kawasan ini, maka wilayah ini disebut Golowelu. Berkaitan dengan anama adalah tanda (nomen est omen) kita perlu nenanam kemiri di bukit Golowelu ini.. Bisa ditanam di Bukit sebelah Utara Timur Laut SDI Golowelu I. Sekaligus itu dijadikan sebagai obyek wisata baru. Juga taman Kemiri di Dekat Pagar bagian Selatan Sekolah. Perlu bersinergi dengan pengurus Bukit Porong dan PEMDA, baik tingkat desa, Kecamatan maupun Kabupaten. (JPS, 3 Desember 2021).
- Sekolah Penjaga dam perawat alam (Sekola Riang Puar). Dere Sanda_ Riang Puar: : Sako: " Riang ga, riang puar riang ga, hoo d de mbate dise ame. Wale: Riang go, riang sama, riang go, hoop de mbate dise ame. (JPS, 5 Des. 2021).
Comments
Post a Comment